oleh

Kemenkes: Meninggalnya Petugas Pemilu bukan karena Kelelahan, tapi Pemicu Kematian

PEMILU.LENTERA.CO.ID — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerima laporan dari 17 provinsi yang menunjukkan bahwa meninggalnya petugas pemilu bukan karena kelelahan. Namun, kelelahan tersebut menjadi pemicu penyakit yang diidap oleh petugas menjadi semakin parah.

“Banyaknya petugas pemilu yang meninggal dipicu oleh kelelahan,” kata Sekretaris Jenderal Kemenkes Oscar Primadi seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa, 14 Mei 2019a

Terjadinya kematian itu, tambah Oscar, setelah diinvestigasi, korban memiliki penyakit dan terpicu karena kelelahan. Oscar menyontohkan seorang petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung.

Ia menjelaskan seseorang dengan faktor risiko penyakit ini tidak boleh terlalu lelah. Namun, saat bertugas, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat dan berdampak pada jantungnya.

Oscar menyebutkan ada 13 penyakit yang ditemukan, di antaranya jantung yang paling mendominasi, infarct myocard, koma hepatikum, stroke, dan hipertensi. Penyakit-penyakit ini memang sisi angka Riskesdas 2018 banyak diderita oleh masyarakat. 

“Ini yang memang berkaitan dengan penyakit tidak menular,” katanya.

Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi stroke sebesar 10,9 perseribu penduduk, meningkat dari angka Riskesdas 2013 yang hanya tujuh perseribu penduduk. Penyakit jantung 1,5 persen pada Riskesdas 2018, sementara Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi jantung koroner berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 persen.

Prevalensi gagal jantung berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3 persen. Untuk hipertensi Riskesdas 2018 menunjukkan angka 8,4 persen berdasarkan diagnosis dokter, dan 8,8 persen diagnosis berdasarkan dokter atau minum obat antihipertensi.

Sementara pada Riskesdas 2013 menunjukkan 9,4 persen diagnosis dokter dan 9,5 persen diagnosis berdasarkan dokter dan minum obat antihipertensi. Sekjen juga mengatakan tempat pemungutan suara (TPS) yang banyak polusi asap rokok dapat memperburuk kondisi kesehatan petugas.

Kendati demikian, sebelum pelaksanaan pencoblosan pada 17 April 2019, Kemenkes sudah berkomunikasi dengan teman-teman daerah, di dinas kesehatan dan rumah sakit untuk waspada. “Kemudian pada 22 April 2019, Kemenkes menegaskan dengan surat edaran untuk membantu membackup teman-teman (petugas Pemilu) yang bertugas di lapangan untuk menyiapkan posko kesehatan dan alhamdulilah itu bergerak seluruh Indonesoa dan kita backup betul,” ujarnya.

Sebelumnya ,Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Widyawati mengatakan, telah dilakukan investigasi penyebab kematian petugas pemilu di 15 provinsi. Jumlah korban meninggal di DKI Jakarta sebanyak 22 jiwa, Jawa Barat 131 jiwa.

Kmeudian, Jawa Tengah 44 jiwa, Jawa Timur 60 jiwa, Banten 16 jiwa, Bengkulu tujuh jiwa, Kepulauan Riau tiga jiwa, Bali dua jiwa, Kalimantan Selatan delapan jiwa, Kalimantan Tengah tiga jiwa, Kalimantan Timur tujuh jiwa, Sulawesi Tenggara enam jiwa, Gorontalo tidak ada, Kalimantan Selatan 66 jiwa, dan Sulawesi Utara dua jiwa.

“Berdasarkan laporan dinas kesehatan dari 15 provinsi itu jika diakumulasikan, ditemukan kematian disebabkan oleh 13 jenis penyakit dan satu kecelakaan,” ujarnya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Sabtu (11/5).

Ia menyebut 13 penyakit tersebut adalah infarc miocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, tuberkulosis (TBC), dan kegagalan multiorgan. 

“Kebanyakan usia korban meninggal di kisaran 50-59 tahun,” ujarnya.

Source: Republika

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *